Pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) tahun 2026 di SMK Islam Pesantren Alam Indonesia Berjalan Tertib
April 2, 2026
BARRU – Upaya mewujudkan kemandirian ekonomi melalui sektor perkebunan kopi di Sulawesi Selatan mendapat angin segar. SMK Islam Pesantren Alam Indonesia, melalui kolaborasi strategis dengan mitra INBISTEK Kopi Bawakaraeng, dipastikan bakal menerima dukungan sarana produksi dari Kedutaan Besar Republik Ceko.
Bantuan senilai kurang lebih Rp 70 juta tersebut difokuskan pada modernisasi pengolahan pasca-panen dan peningkatan kapasitas petani serta siswa. Penyerahan bantuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan kolaboratif yang melibatkan akademisi, praktisi industri kopi, dan masyarakat tani setempat.
Modernisasi Alat dan Edukasi
Dukungan yang diberikan mencakup alat-alat krusial dalam rantai produksi kopi. Di antaranya adalah satu unit mesin roasting kopi berkapasitas 5 kilogram dan alat pendeteksi kadar air untuk memastikan kualitas biji kopi memenuhi standar pasar.
Tidak hanya fokus pada hasil akhir, bantuan ini juga menyasar aspek hulu dan keamanan kerja. Seluruh siswa akan dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap—mulai dari baju kerja, topi, sepatu boot, hingga kaos tangan—serta peralatan pangkas berupa gunting dan gergaji. Untuk mendukung regenerasi tanaman, disediakan pula sedikitnya 10.000 benih biji kopi untuk pembibitan, lengkap dengan alat biopori dan pelubang tanah.
Pemberdayaan 10 Kelompok Tani
Selain menyasar sektor pendidikan, kolaborasi ini merangkul masyarakat sekitar dengan menyalurkan bantuan kepada 10 kelompok tani yang tersebar di tiga wilayah strategis:
-
Umpungeng: 4 kelompok tani.
-
Lappa Laona: 4 kelompok tani.
-
Pujananting: 2 kelompok tani.
Setiap kelompok tani dijadwalkan menerima masing-masing 20-unit gunting pangkas dan gergaji pangkas. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi perawatan kebun kopi milik warga yang selama ini menjadi penopang ekonomi lokal.
“Kolaborasi ini bukan sekadar bantuan fisik, tapi langkah menuju kemandirian ekonomi masyarakat tani,” ujar perwakilan mitra dalam pertemuan tersebut. Melalui integrasi antara sekolah kejuruan dan kelompok tani, program ini diharapkan menciptakan ekosistem industri kopi yang berkelanjutan dari hulu ke hilir.
Fahrul Rahman, S.Pd selaku Kepala Sekolah mengatakan “Hadirnya mesin roasting ini di sekolah bukan hanya untuk siswa, tapi merupakan milik masyarakat juga. Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi warga yang ingin meningkatkan kualitas kopinya melalui jasa sangrai di sini. Biaya yang dikenakan nantinya akan kami kelola kembali sebagai biaya operasional dan bahan bakar agar mesin ini selalu dalam kondisi prima dan terus bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi seluruh petani kita.”

